Untuk kamu yang sudah memenangkan hatiku, membuka pintu
gerbang istana cintaku. Membutuhkan waktu yang lama menyadari bahwa kamu adalah
sosok yang selama ini telah mencuil sedikit bagian terdalam di relung hatiku,
dan butuh kesabaran yang lebih, terdiam memikul kesakitan karena tak dapat
mengungkapkan pada dunia kalau diri ini sangat mengagungkanmu.
Kamu yang ku panggil teman, teman sebaya ku, teman
sepermainanku, kini ku hanya dapat menyalahkan waktu yang semakin lama
membuatku terperangkap akan keadaan.
Kamu yang menjadi alasanku datang saat berkumpul dengan
teman-teman kita agar mata lensaku dapat menyorot sejuknya senyummu, lepas
tawamu, dan indahnya wajahmu.
Kamu, seakan-akan tak pernah hilang dalam memori fikiranku.
Seperti telah membeli sepetak tanah dan membangun rumah didalam otakku, menetap
dan diam disitu untuk waktu yang sangat lama.
Waktu berhargaku adalah menghabiskan waktu konyol bersamamu, iya kamu yang selalu ku harapkan menjadi pangeran dalam dongeng
imajinasi liarku. Duduk di bangku belakang motor kesayanganmu dengan membekam
bahagiaku karena kamu bersedia mengantarku pulang kembali ke rumah.
Terkadang kamu kesal saat ku mencoba mengganggumu
dengan kekonyolanku atau membuatmu khawatir akan diriku, maafkan, karena aku
hanya ingin mendapatkan perhatian lebih darimu.
Hay, aku hanya tak sanggup menodai indahnya
persahabatan ini, mengubah keadaan yang sudah nyamankan dirimu saat didekatku. Aku
memilih mengendapkan sebuah beban yang sulit kujinakkan dan diikat dengan
tenang, seperti singa kelaparan, menggebu-gebu layaknya magma yang berada pada
tekanan tinggi, ingin segera memancut keluar melalui permukaan gunung berapi
dalam bentuk aliran larva.
Jika ku diberi pilihan, aku tak ingin memiliki
perasaan ini agar tak kerepotan membatasi diriku dan berusaha menutupi rasa
tersiksaku saat kamu membicarakan sosok wanita lain selain diriku. Baiklah
mungkin ini bukanlah hal yang mudah, aku akan mencoba meleburkan beban ini dan
melenyapkanya. Karena aku terlalu takut kehilangan betapa berharganya dirimu
sebagai teman.
Jika kamu membaca ini, aku berharap kamu tak terbebani, atau
merasa bahwa aku hanya berpihak pada diriku sendiri karena tak mau membagi
perasaan ini. Maafkan aku mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar