Sabtu, 03 Oktober 2015

SELAMA ADA HITAM MASIH ADA PUTIH



Banyak kata yang dirangkai sedemikian rupa bahkan sampai jajaran paragraf bisa mendefinisikan arti dari sebuah hidup. Sebenarnya apa itu hidup ??
Bukannya mobil juga bisa hidup. Atau contoh sederhana lainnya ketika kita menekan tombol On pada sebuah kipas angin, dan saat benda bergerak, kita mengatakan bahwa benda itu telah hidup. Jika dipikirkan mungkin akan merasa entahlah. Bodoh amat, seperti kurang kerjaan memfilsafati hidup nya benda mati . Lalu kenapa benda mati dikatakan hidup. Mungkin ini hanya permainan kata-kata yang mungkin tidak perlu dibahas terlalu panjang.


Hidup itu ada ketika sebuah jiwa atau ruh sedang menyatu dengan sebuah raga dan saat jasad masih sanggup untuk bernafas. Ya sudah jelas jika ruh telah meninggalkan sebuah raga pasti telah terjadi sebuah perlawanan kata hidup, yaitu mati. Lalu bagaimana nasip setelah mati ?? tak ada yang mengetahui. Karena itu sudah menjadi sebuah rahasia alam yang memang tidak ada yang bisa menjawab. Atau mungkin rumput yang bergoyang, pohon-pohon yang menari bisa menjawab. Itu jelas Mustahil. 


Ketika nasip setelah mati tak ada yang tau, apa yang harus dilakukan ?? ya sudah abaikan, tak perlu menyusahkan diri dengan pertanyaan yang konyol. Kata Almarhum bapak Gusdur “ Gitu aja kok repot “.

Tak perlu melulu memikirkan kehidupan setelah mati. Yang penting adalah hari ini dan detik ini. meskipun hanya detik ini terkadang membuat diri bertanya-tanya, apa yang dicari dalam hidup ini. Jawabannya adalah renungkan sejenak apa yang telah dilakukan selama jiwa sedang menyatu dengan raga. Hidup ini hanya mencari satu hal sederhana, yaitu keSENANGan.


Sebenarnya banyak sekali, tapi semua itu telah tercakup dalam satu kata yang memiliki dua kata imbuhan tersebut yakni adalah keSENANGan. Dimanapun, kapanpun, apapun, bagaimanapun, dan siapapun bisa menemukan kesenangan. Jika dijabarkan apa saja yang bisa membuat hidup ini senang, pasti banyak sekali dan saat kesenangan itu telah di capai,kita tidak pernah bahkan tidak pernah puas akan sebuah keSENANGan. Menginginkan lagi dan lagi. Cinta, harta, tahta, bahkan dosapun ada yang membuat hati senang, kenapa bisa jadi seperti itu. Coba sedikit ingat saat menghina seseorang yang tidak disuka lalu dia marah, itu juga keSENANGan yang bertemakan dosa, tapi itu tetaplah keSENANGan. Sex, narkoba, atau nafsu belaka lainnya mereka semua juga bisa menyenangkan. Tapi untuk apa semua itu, keSENANGan hanyalah fana, keSENANGan bersifat sementara. Ingat roda itu berputar.


Saat roda berputar juga tidak akan semulus yang diinginkan. Roda membutuhkan sesuatu yang mampu memuluskan perputarannya, agar tetap pada porosnya. Roda keSENANGan membutuhkan pelumas. Dan keDAMAIan adalah pelumasnya,  damai dalam sebuah pelukanNya. Semuanya kesenangan itu tidak akan berguna saat hati tak damai, dan keDAMAIan itu adalah Tuhan dan dekat dengan Tuhan. Apapun yang kita cari, apapun alasan untuk mencari, semua itu kembali kepada Tuhan. Ibarat banyak harta tapi sakit-sakitan. Ibarat punya banyak istri tapi mandul. Tidak berguna bukan.


Jadi bagaimana?? masih mengejar keSENANGan semata, hanya kejapan mata.mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyadarkan diri sendiri, atau mungkin tamparan alam yang mampu menyadarkan dari gemerlapnya kegilaan dunia. Itu semua tidak perlu, karena senantiasa dekat dengan Tuhan dan selalu bersyukur adalah cara sederhana untuk membuat hidup lebih berarti dibandingkan mengikuti kepuasan yang tak memiliki ujung. keSENANGan belum tentu menDAMAIkan, tapi disaat berada dalam keDAMAIan, keSENANGan akan mengiringi. Dan yang pasti hitam tidak akan menyala tanpa adanya putih yang menyelimuti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar