Jumat, 06 November 2015

SURAT BOTOL UNTUK BAPAK


Semilir angin pesisir beradu dengan nyaringnya ombak yang senantiasa menyapu, mengikis permukaan pasir putih. Matahari berada di ujung belahan bumi berwarna jingga menyelimuti birunya laut yang terpandangi oleh kedua mata bocah masih terbata-bata dalam berkata.


“ baa..ba..bappak..” dilemparnya sebuah botol hijau ke lautan lalu meninggalkan jejaknya pada pasir.

Botol-botol bekas, kertas-kertas lusuh bertuliskan tangan Pandu. Membuat Sumirah ingin melihat dan membacanya. Tak jelas dibaca, tapi tulisan salah satu surat Pandu membuat mata Sumirah tak enggan meneteskan air mata rintihan lalu terduduk lemas.

‘Pandu dan ibu rindu bapak’

-+-

Sumirah, hanya dapat menggarami ikan hasil tangkapan suaminya, sambil menghitung hari berapa lama suaminya bernelayan dilautan lepas. Meninggalkan istri serta satu anak berusia 10 tahun dalam hitungan hari sampai minggu adalah sebuah keharusan untuk Giat,  demi perut yang selalu terisi dan biaya hidup sehari-hari.

Tak mudah untuk Sumirah, sendiri menjaga seorang anak laki-laki yang memiliki kekurangan. Mata yang tak bisa lepas memperhatikan, belaian kasih sayang yang memang sangat dibutuhkan Pandu, anak semata wayangnya bersama Giat. Senantiasa dicurahkan oleh Sumirah, tanpa ada kata keluh kesah, hanya sesalkan mengapa anaknya yang paling dicinta menderita autis.

Seminggu setelah kepergianya menjarah ikan dilautan, Giat pulang dengan tangkapan yang tak cukup memuaskan. Dengan kening yang mengkerut, Giat duduk di atas kursi reot dengan lutut sebelah sejajar dengan  dada. Sumirah hanya memandang sambil mengipasi Pandu yang tengah belajar menulis  dengan sobekkan kardus.

“tak mengapalah pak, kita masih ada persediaan ikan asin hasil tangkapan kemaren” dengan lembut Sumirah mencoba menghibur suaminya.

“kau tau, kenapa dunia ini tak adil pada kita, kita hidup sudah terlalu miskin. Tangkapan ikan tak memuaskan, perahu juga bukan milik kita. Anak juga tak layak disebut anak ( praanggg )” teko besi yang mulai berkarat dilemparnya oleh Giat dan berlalu.

Gelap telah terusir oleh sinar bulan purnama, menemani lamunan Sumirah dimalam petang. Seakan belum cukup juga untuk mengusir gejolak yang tengah mengaduk-aduk hatinya. Terbesit dalam benaknya untuk lari dan memasrahkan tubuhnya ditelan oleh lautan. Tapi semua itu coba ditepisnya, demi Pandu yang masih membutuhkan dirinya. Siapa lagi memang yang mau merawat anak yang berak pun masih harus diladeni. Orang tua Sumirah yang tak sudi menerimanya kembali. Orang tua Giat yang sudah tiada dua-duanya. Kini Sumirah sendiri, memikul betapa pilunya disenggamahi nasib.

Terik matahari telah sampai pada ubun-ubun Giat, menggarami ikan bersama istrinya didepan rumah yang berdindingkan kayu jati. Pandu berlari dari dalam rumah dan kakinya tersandung oleh buah kelapa besar lalu braakkk. Garam yang semula tenang didalam tong besi tiba-tiba berceceran bercampur dengan pasir. Wajah Giat berubah masam dan menarik lengan pandu dengan amarahnya. Memukulnya dengan rotan, Pandu hanya teriak kecil, menangis, memanggil  Sumirah dengan terbata-bata.

“anak cacat, tak tau diuntung”

Amarah Giat semakin bernafsu untuk mencaci, memaki dengan tangan yang terus memukul hingga tak berjeda. Sumirah berlari dari tempatnya, menarik Pandu dari gengaman suaminya.

“Cukup pak, tak puas kau memaki, lalu memukul, memaki, lalu memukul terus menerus. Tak cukup kau liat anak kita yang menderita karena dosa kita yang telah menyakiti hati orang tua saya”

“O jadi kau menyesal menikah denganku” mata giat melotot ke arah Sumirah dengan menunjuk ke arah wajah Sumirah.

“Cukup pak, saya menyesal karena harus kawin lari. Hamil diluar nikah hanya untuk mencari alasan kepada bapak agar bisa menikah dengan engkau. Sekarang Pandu pak yang harus menanggung dosa kita”

“Aku tak perlu dengar celotehmu. Tak usah kau cari aku”

“Bapakk .... paakkkk.. bapakkkk” teriak Sumirah dengan tangisan yang terisak-isak

Giat mengacuhkan wajahnya, melangkah kedalam rumah mengambil baju-baju lusuhnya dan membungkusnya dengan sarung. Dia pergi bersama perahu sewaan juragan Komar, konglomerat didesanya. Sumirah berlari dengan kaki sayunya, mengejar Giat. Tapi Giat sudah jauh dari pesisir, Sumirah menangis ditengah air laut dangkal. Menyesali kata demi kata yang telah menyayat hati belahan jiwanya.

Jejak-jejak langkah diatas pasir mengantarnya kembali kerumah, dipeluknya anak kesayangannya. Pandu hanya bisa berbicara kecil, merintih kesakitan. Entah kapan Giat akan kembali, Sumirah hanya mengharapkan keajaiban dari Tuhan agar dapat mengembalikan suaminya.

-+-

Tak terhitung hari setelah kepergian Giat, sembilan atau sepuluh hari lamanya. Dua nelayan berlari menuju rumah Sumirah. Sesampainya dirumah Sumirah, mereka bercerita lalu mengajak Sumirah kepesisir pantai. Hati Sumirah seakan telah tertusuk oleh bambu runcing, berlari sambil menggendong Pandu. Sumirah seakan sudah tak sanggup meneggakkan kaki lututnya, melihat tubuh suaminya yang terlentang membeku dan  pucat pasi. Giat tiada, oleh dasyatnya badai ditengah lautan saat meninggalkan istrinya. Dan keajaiban Tuhan yang telah membuat ombak mengantarkan Giat ke peraduan istrinya.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar