Semilir angin pesisir beradu dengan nyaringnya ombak
yang senantiasa menyapu, mengikis permukaan pasir putih. Matahari berada di
ujung belahan bumi berwarna jingga menyelimuti birunya laut yang terpandangi
oleh kedua mata bocah masih terbata-bata dalam berkata.
“ baa..ba..bappak..” dilemparnya sebuah botol hijau
ke lautan lalu meninggalkan jejaknya pada pasir.
Botol-botol bekas, kertas-kertas lusuh bertuliskan
tangan Pandu. Membuat Sumirah ingin melihat dan membacanya. Tak jelas dibaca,
tapi tulisan salah satu surat Pandu membuat mata Sumirah tak enggan meneteskan
air mata rintihan lalu terduduk lemas.
‘Pandu
dan ibu rindu bapak’
-+-
Sumirah, hanya dapat menggarami ikan hasil tangkapan
suaminya, sambil menghitung hari berapa lama suaminya bernelayan dilautan lepas.
Meninggalkan istri serta satu anak berusia 10 tahun dalam hitungan hari sampai
minggu adalah sebuah keharusan untuk Giat,
demi perut yang selalu terisi dan biaya hidup sehari-hari.
Tak mudah untuk Sumirah, sendiri menjaga seorang
anak laki-laki yang memiliki kekurangan. Mata yang tak bisa lepas
memperhatikan, belaian kasih sayang yang memang sangat dibutuhkan Pandu, anak
semata wayangnya bersama Giat. Senantiasa dicurahkan oleh Sumirah, tanpa ada
kata keluh kesah, hanya sesalkan mengapa anaknya yang paling dicinta menderita
autis.
Seminggu setelah kepergianya menjarah ikan dilautan,
Giat pulang dengan tangkapan yang tak cukup memuaskan. Dengan kening yang
mengkerut, Giat duduk di atas kursi reot dengan lutut sebelah sejajar
dengan dada. Sumirah hanya memandang
sambil mengipasi Pandu yang tengah belajar menulis dengan sobekkan kardus.
“tak mengapalah pak, kita masih ada persediaan ikan
asin hasil tangkapan kemaren” dengan lembut Sumirah mencoba menghibur suaminya.
“kau tau, kenapa dunia ini tak adil pada kita, kita
hidup sudah terlalu miskin. Tangkapan ikan tak memuaskan, perahu juga bukan
milik kita. Anak juga tak layak disebut anak ( praanggg )” teko besi yang mulai
berkarat dilemparnya oleh Giat dan berlalu.
Gelap telah terusir oleh sinar bulan purnama,
menemani lamunan Sumirah dimalam petang. Seakan belum cukup juga untuk mengusir
gejolak yang tengah mengaduk-aduk hatinya. Terbesit dalam benaknya untuk lari
dan memasrahkan tubuhnya ditelan oleh lautan. Tapi semua itu coba ditepisnya,
demi Pandu yang masih membutuhkan dirinya. Siapa lagi memang yang mau merawat
anak yang berak pun masih harus diladeni. Orang tua Sumirah yang tak sudi
menerimanya kembali. Orang tua Giat yang sudah tiada dua-duanya. Kini Sumirah
sendiri, memikul betapa pilunya disenggamahi nasib.
Terik matahari telah sampai pada ubun-ubun Giat,
menggarami ikan bersama istrinya didepan rumah yang berdindingkan kayu jati.
Pandu berlari dari dalam rumah dan kakinya tersandung oleh buah kelapa besar
lalu braakkk. Garam yang semula
tenang didalam tong besi tiba-tiba berceceran bercampur dengan pasir. Wajah
Giat berubah masam dan menarik lengan pandu dengan amarahnya. Memukulnya dengan
rotan, Pandu hanya teriak kecil, menangis, memanggil Sumirah dengan terbata-bata.
“anak cacat, tak tau diuntung”
Amarah Giat semakin bernafsu untuk mencaci, memaki
dengan tangan yang terus memukul hingga tak berjeda. Sumirah berlari dari
tempatnya, menarik Pandu dari gengaman suaminya.
“Cukup pak, tak puas kau memaki, lalu memukul,
memaki, lalu memukul terus menerus. Tak cukup kau liat anak kita yang menderita
karena dosa kita yang telah menyakiti hati orang tua saya”
“O jadi kau menyesal menikah denganku” mata giat
melotot ke arah Sumirah dengan menunjuk ke arah wajah Sumirah.
“Cukup pak, saya menyesal karena harus kawin lari.
Hamil diluar nikah hanya untuk mencari alasan kepada bapak agar bisa menikah
dengan engkau. Sekarang Pandu pak yang harus menanggung dosa kita”
“Aku tak perlu dengar celotehmu. Tak usah kau cari
aku”
“Bapakk .... paakkkk.. bapakkkk” teriak Sumirah
dengan tangisan yang terisak-isak
Giat mengacuhkan wajahnya, melangkah kedalam rumah
mengambil baju-baju lusuhnya dan membungkusnya dengan sarung. Dia pergi bersama
perahu sewaan juragan Komar, konglomerat didesanya. Sumirah berlari dengan kaki
sayunya, mengejar Giat. Tapi Giat sudah jauh dari pesisir, Sumirah menangis
ditengah air laut dangkal. Menyesali kata demi kata yang telah menyayat hati
belahan jiwanya.
Jejak-jejak langkah diatas pasir mengantarnya kembali
kerumah, dipeluknya anak kesayangannya. Pandu hanya bisa berbicara kecil,
merintih kesakitan. Entah kapan Giat akan kembali, Sumirah hanya mengharapkan
keajaiban dari Tuhan agar dapat mengembalikan suaminya.
-+-
Tak terhitung hari setelah kepergian Giat, sembilan
atau sepuluh hari lamanya. Dua nelayan berlari menuju rumah Sumirah.
Sesampainya dirumah Sumirah, mereka bercerita lalu mengajak Sumirah kepesisir
pantai. Hati Sumirah seakan telah tertusuk oleh bambu runcing, berlari sambil
menggendong Pandu. Sumirah seakan sudah tak sanggup meneggakkan kaki lututnya,
melihat tubuh suaminya yang terlentang membeku dan pucat pasi. Giat tiada, oleh dasyatnya badai
ditengah lautan saat meninggalkan istrinya. Dan keajaiban Tuhan yang telah
membuat ombak mengantarkan Giat ke peraduan istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar