Jumat, 06 November 2015

AUTIS, DIPANDANG DARI SISI LAIN


Menjadi seorang panutan, itu susah-susah ribet. Gak ada yang gampang. Ketika kita harus bertolak pada sebuah kepribadian yang notabene nya sudah dari sononya, dan harus berperilaku melawan arus dari biasanya. Pertama rikuh sama diri sendiri dan hampir selalu bertanya-tanya “
kok bisa gue jadi kayak tadi, cukup keren “. Tapi dengan berjalannya waktu itu semua teratasi, karena sekarang gue bisa menjadi seorang yang memberikan pengaruh yang sedikit penting terhadap salah satu tujuan negara kita yang tercantum pada Pembukaan UUD 1945 alenia ke-4, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kesempatan ini memang bakalan berpengaruh sama masa depan, dan dapat menambah pengalaman. Awal mengajar cukup menyenangkan, bisa berinteraksi dengan anak-anak, bisa bermain dengan dunia mereka, menyaksikan betapa tulusnya mereka saat tertawa. Semua itu berjalan dengan normal.

Dan semua itu berubah ketika negara api menyerang......................
Sebenarnya tidak semengerikan itu. Saat kaki menginjakkan ke sebuah lembaga baru semuanya masih biasa saja. Tapi setelah mengetahui bahwa terdapat salah satu murid yang memiliki sebuah keistimewaan ( Autis ), yang ada dalam benak gue saat itu cuma satu kata “ BENCANA ”. bukannya meremehkan atau bagaimana, tapi hanya sedikit takut jikalau nanti gue tidak bisa mengatasi dia, wajar dong kalau sadar akan kemampuan diri sendiri.

Dia sama seperti anak-anak lainnya yang berusia 9 tahun. Masih suka bermain, tetapi dia sedikit lebih banyak bicara dan nglantur. Yang lebih parahnya lagi, dia suka menyakiti dirinya sendiri, contohnya garukkin kaki sampai berdarah, dia suka mainin darahnya sendiri. Ini sedikit tantangan, dan membuat semakin penasaran bagaimana cara mengatasi anak yang membutuhkan perhatian khusus. Langkah-langkahnya seperti ini :

  1. 1.      Pahami gaya bahasa dia dalam berbicara.
  2. 2.      Kenali karakter dia.
  3. 3.      Cari tau apa kelemahan dia, supaya tidak salah langkah dalam memberikan sebuah penjelasan.
  4. 4.      Cari tau kelebihan dia, supaya kita lebih mudah dalam mengasah kemampuannya.
  5. 5.      Jangan pernah membentak tapi jangan terlalu lembut saat berbicara dengan dia.
  6. 6.      Ajak dia terus berbicara, itu dapat membantu dia supaya lebih tertata dalam berbicara dengan orang lain.
  7. 7.      Dan yang pasti harus memiliki kesabaran yang sangat.

Sampai sekarang gue selalu yakin, murid autis gue akan menjadi orang yang memiliki kelebihan yang belum tentu orang normal juga memilikinya, dan satu hal lagi yang membuat gue yakin. Banyak orang hebat di luar sana yang memiliki kebutuhan khusus tapi bisa menandingi kemampuan orang-orang normal lainnya. Kenapa gue bisa ngomong kayak gitu, karena gue punya satu teman. Dia pintar dan mendapatkan IPK paling tinggi di angkatan gue. Padahal sebenarnya dia dulunya autis. Ada lagi, dia bernama Daniel Paul Tammet, meskipun memiliki keterbatasan ( Autis ) dia mampu menyelesaikan matematis paling rumit.

Daniel Paul Tammet nació el 31 de enero de 1979 . Es un joven ...


Jadi sebesar apapun kekurangan seseorang, tidak akan membatasi seseorang untuk menjadi yang terbaik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar