Masih
ada bekas-bekas cacian yang masih menempel pada tempurung otak, mengerak dan
enggan untuk pergi.
Tawa-tawa itu masih juga bergema seperti desahan nyanyian setan malam yang tak memiliki nada. Hati ini jadi layu, seperti daun-daun yang tak bertemu sinar mentari.
Tawa-tawa itu masih juga bergema seperti desahan nyanyian setan malam yang tak memiliki nada. Hati ini jadi layu, seperti daun-daun yang tak bertemu sinar mentari.
Entah
apa yang sedang diresahkan sekarang. Bukan soal kehidupan yang pelik. Bukan
juga soal cinta yang seperti para pemuda-pemudi keluhkan. Dimana-mana terdiam,
dimana-mana inspirasi datang. Tapi seakan tak kunjung ingin dikeluarkan. Entah
masih sembunyi di selipan lemari sel-sel otak. Atau masih terkotak dalam kotak
pikiran.
Ya seperti itulah apa yang gue rasain
sekarang. Terlalu banyak inspirasi yang datang, tapi susah untuk mengusir pergi.
Setiap kali naik motor dan berhenti di lampu merah. Gue nglamun, ada saja yang
terlintas. Ada yang tersimpan, ada juga yang hanya numpang lewat lalu pergi.
Sampai gue disadarkan oleh teriakan klakson yang berbicara tentang kesabaran
pengemudi di belakang.
Gue kira, hanya kehilangan semangat.
Tapi setelah di telusuri dan diamati oleh otak kanan dan kiri. Ternyata
bukan....
Gue kira, hanya kurang latian. Tapi
setelah di teliti oleh mata kanan dan kiri. Ternyata bukan..
Gue kira, hanya kurang inspirasi.
Tapi setelah di cermati oleh otak dan mata yang kanan maupun kiri. ternyata
salah besarrrr....
Sepertinya ada yang berontak ingin
segera pergi. Diotak sudah terlalu sesak, tak ada ruang maupun senggang. Karena
terlalu banyak kata, kisah, juga siksa yang ingin segera diekspirasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar