Minggu, 28 Juni 2015

Terbuka Jendela Menjelang UAS

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAy_gAYtvhhw9pfEBM1H0vrl0FeGfok4pgjn-TH3z1FsyJ6O_Q8NwhhKzqukRUTr7xL4IerInEDCFH1E-VbbeFauKtr1oyCiqPSv1zDjAGyubCXGEGjSIvj8fpl82R8TWfd7fuOXItQlQ/s320/GAMBAR+UAS.bmp

Sibuk !!!
  
UAS sudah terlihat di pelupuk mata, kakipun menapak perlahan dengan hati-hati supaya iman tak tergoyah di tengah perjuangan.
 
Sebentar lagi gue bakalan mengakhiri masa-masa semester 4 dan segera menginjak ke semester 5. Sebelum itu gue harus melewati beberapa rintangan membentang, yaitu UAS. Pengennya sekarang gue tidur dan pas bangun udah semester 5. Gue lelah, tugas segambreng, mata kuliah masih ada, dosen rewel banget minta ini minta itu, tanggal UAS kayak rok penari ular yang simpang siur. Gue merasa jadi kebo yang kerja jadi pemeras air tebu, disuruh keliling di tempat itu-itu aja. Pusing pala banci.
Sebagai mahasiswa Sastra, hidup gue enggak lepas dari membaca dan menulis. Tugas gue enggak jauh dari mengarang, analisis, menerjemah. Terlihat gampang tapi coba aja kalau enggak kuat iman mungkin kalian bakalan milih berhenti kuliah dan milih nikah muda. Woo woo woo enggak se cemen itu. UAS kali ini berbeda dari UAS sebelumnya, karena tentunya lebih sulit. Tapi enggak sesulit ngalahin madara biar jadi hokage. Hal itu ngebuat gue sadar, jadi mahasiswa sastra yang kedengarannya asik, kerjaan bongkar kepala demi merajut kata ternyata enggak semudah yang kepala gue bayangin. 
Gue belajar banyak selama jadi mahasiswa sastra. Tentang merangkai bebas tapi harus terbatas, tentang menyampaikan tuntas tapi harus akurat, dan tentang memahami apapun dengan tepat sasaran.  Gue merasa menjadi seseorang yang sedikit demi sedikit bisa melakukan apapun dengan rapi dan sistematis. Gue kira mengarang, analisis, ataupun menerjemah tidak memiliki teori yang wajib buat di ketahui, tapi ternyata gue salah. Ada banyak sekali teori yang harus di selami. Ibaratnya kita harus mengenali sungai sebelum mengetahui air terjun.

Gue terlalu berpegang teguh sama prinsip yang selalu gue anggap bener tapi ternyata salah, yaitu teori tidak terlalu penting untuk menjadi sebuah tameng, karena kita bisa membuat teori sendiri setelah melakukan berbagai macam praktek. Itu membuat gue menjadi pribadi yang sombong dan gak mau belajar dari orang lain. 
Sepertinya UAS kali ini sangat sangat sangat memberikan faedah bagi kepribadian gue. Bahwa apapun di dunia ini enggak bisa di anggap sebelah mata, karena bakalan capek tu mata sebelah merem-merem. Atau di pahami dengan setengah pikiran, karena ntar loe dikira gak punya otak sebelah. Atau, bentar satu lagi gak bisa di jalanin dengan setengah kaki, kasian ntar pincang, sakit tu lutut.

1 komentar: