
Sibuk !!!
UAS sudah terlihat di pelupuk mata, kakipun menapak perlahan dengan
hati-hati supaya iman tak tergoyah di tengah perjuangan.
Sebentar lagi gue bakalan mengakhiri
masa-masa semester 4 dan segera menginjak ke semester 5. Sebelum itu gue harus
melewati beberapa rintangan membentang, yaitu UAS. Pengennya sekarang gue tidur
dan pas bangun udah semester 5. Gue lelah, tugas segambreng, mata kuliah masih
ada, dosen rewel banget minta ini minta itu, tanggal UAS kayak rok penari ular
yang simpang siur. Gue merasa jadi kebo yang kerja jadi pemeras air tebu,
disuruh keliling di tempat itu-itu aja. Pusing pala banci.
Sebagai mahasiswa Sastra, hidup gue
enggak lepas dari membaca dan menulis. Tugas gue enggak jauh dari mengarang,
analisis, menerjemah. Terlihat gampang tapi coba aja kalau enggak kuat iman
mungkin kalian bakalan milih berhenti kuliah dan milih nikah muda. Woo woo woo enggak
se cemen itu. UAS kali ini berbeda dari UAS sebelumnya, karena tentunya lebih
sulit. Tapi enggak sesulit ngalahin madara biar jadi hokage. Hal itu ngebuat
gue sadar, jadi mahasiswa sastra yang kedengarannya asik, kerjaan bongkar
kepala demi merajut kata ternyata enggak semudah yang kepala gue bayangin.
Gue belajar banyak selama jadi mahasiswa
sastra. Tentang merangkai bebas tapi harus terbatas, tentang menyampaikan
tuntas tapi harus akurat, dan tentang memahami apapun dengan tepat
sasaran. Gue merasa menjadi seseorang
yang sedikit demi sedikit bisa melakukan apapun dengan rapi dan sistematis. Gue
kira mengarang, analisis, ataupun menerjemah tidak memiliki teori yang wajib
buat di ketahui, tapi ternyata gue salah. Ada banyak sekali teori yang harus di
selami. Ibaratnya kita harus mengenali sungai sebelum mengetahui air terjun.
Gue terlalu berpegang teguh sama
prinsip yang selalu gue anggap bener tapi ternyata salah, yaitu teori tidak
terlalu penting untuk menjadi sebuah tameng, karena kita bisa membuat teori
sendiri setelah melakukan berbagai macam praktek. Itu membuat gue menjadi
pribadi yang sombong dan gak mau belajar dari orang lain.
Sepertinya UAS kali ini sangat sangat
sangat memberikan faedah bagi kepribadian gue. Bahwa apapun di dunia ini enggak
bisa di anggap sebelah mata, karena bakalan capek tu mata sebelah merem-merem.
Atau di pahami dengan setengah pikiran, karena ntar loe dikira gak punya otak
sebelah. Atau, bentar satu lagi gak bisa di jalanin dengan setengah kaki,
kasian ntar pincang, sakit tu lutut.
Ada yg bisa d bntu
BalasHapus