Jumat, 24 Juli 2015

“SEBUAH KETIDAK-MUNGKINAN”



Ini sulit untuk diawali, karena memang terlalu rumit untuk memulai. Entah, sejak kapan nuansa-nuansa  pemecah keheningan hati ini mulai tumbuh beriringan dengan berjalannya hari, bulan,
hingga tahun. Akupun tidak mengingat saat pertama kali keindahan itu telah mengisi kekosongan, yang sunyi seperti rumah yang lama tak berpenghuni, penuh dengan debu dan sarang laba-laba. 

Kamu...

Sebuah ketidak-mungkinan yang tak pernah aku semogakan. Karena aku mengetahui kamu dan Kamu tahu akan diriku, yang memiliki posisi sama dengan temanmu. Akupun mengerti bagaimana kita. Dan kita berdua yang berbeda tak akan pernah menjadi kita, bersama dalam alur yang sama. Kita terlalu berbeda...

Aku...

Aku hanya mampu membungkus ratusan, ribuan, jutaan, bahkan milyaran kata-kata jelmaan dari sebuah rasa dalam sebuah peti pemompa darah. Mengalir bersama denyutan nadi. Aku melihat banyak seorang yang memiliki romansa drama seperti diriku di luar sana, mereka mampu mengucapkan tiga kata yang mewakili sebuah hakikat rasa, yang indah seperti senja di sore hari. Tapi aku memilih diam. Diam bersama dengan tawa dan senyum bersama kamu. Terlalu munafik memang. Pengecut dan pecundang adalah kata yang pantas atas kediamanku. Tapi aku bisa apa, aku masih ingin menghargai sebuah kamu. Sosok kamu terlalu berlian untuk dilepaskan sebagai salah satu seseorang yang merasakan suka duka, keluh kesah ku. Aku juga tak mau mengkambing-hitamkan takdir Tuhan yang memporsikan dirimu tak lebih dari itu. 

Aku menerimanya, dan sedikit-demi sedikit mencoba memahami bahwa kamu memang sebuah ketidak mungkinan. Mencoba menghindari segala imajinasi akan kisah kita. Berusaha menyadari siapa kita, dan bagaimana kita.

 Detik ini adalah proses, dimana aku sebagai pengendali dari diriku sendiri. Meskipun masih dalam tahap bermain dan menikmati sebuah kesakitan. Bernafas dengan membuang kata-kata jelmaan dari sebuah rasa itu, dari jutaan menjadi ribuan, ratusan menjadi puluhan sampai aku tak merasakan istimewanya dirimu.

 Terima kasih kamu. Sebuah mimpi yang memang sudah didepan mata tapi sangat mustahil untuk dicapai maupun diraih. Ini adalah sebuah jalan dan sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap menyimpan keindahan rasa. Membuang jauh ego dan nafsu, karena semua itu telah dimenangkan oleh sebuah logika dan realita. Bahwa aku dan kamu dalam kemustahilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar