Ini sulit untuk diawali, karena memang terlalu rumit untuk
memulai. Entah, sejak kapan nuansa-nuansa
pemecah keheningan hati ini mulai tumbuh beriringan dengan berjalannya
hari, bulan,
hingga tahun. Akupun tidak mengingat saat pertama kali keindahan itu telah mengisi kekosongan, yang sunyi seperti rumah yang lama tak berpenghuni, penuh dengan debu dan sarang laba-laba.
hingga tahun. Akupun tidak mengingat saat pertama kali keindahan itu telah mengisi kekosongan, yang sunyi seperti rumah yang lama tak berpenghuni, penuh dengan debu dan sarang laba-laba.
Kamu...
Sebuah ketidak-mungkinan yang tak pernah aku semogakan.
Karena aku mengetahui kamu dan Kamu tahu akan diriku, yang memiliki posisi sama
dengan temanmu. Akupun mengerti bagaimana kita. Dan kita berdua yang berbeda
tak akan pernah menjadi kita, bersama dalam alur yang sama. Kita terlalu
berbeda...
Aku...
Aku hanya mampu membungkus ratusan, ribuan, jutaan, bahkan
milyaran kata-kata jelmaan dari sebuah rasa dalam sebuah peti pemompa darah.
Mengalir bersama denyutan nadi. Aku melihat banyak seorang yang memiliki
romansa drama seperti diriku di luar sana, mereka mampu mengucapkan tiga kata
yang mewakili sebuah hakikat rasa, yang indah seperti senja di sore hari. Tapi
aku memilih diam. Diam bersama dengan tawa dan senyum bersama kamu. Terlalu
munafik memang. Pengecut dan pecundang adalah kata yang pantas atas kediamanku.
Tapi aku bisa apa, aku masih ingin menghargai sebuah kamu. Sosok kamu terlalu
berlian untuk dilepaskan sebagai salah satu seseorang yang merasakan suka duka,
keluh kesah ku. Aku juga tak mau mengkambing-hitamkan takdir Tuhan yang
memporsikan dirimu tak lebih dari itu.
Aku menerimanya, dan sedikit-demi sedikit mencoba memahami
bahwa kamu memang sebuah ketidak mungkinan. Mencoba menghindari segala
imajinasi akan kisah kita. Berusaha menyadari siapa kita, dan bagaimana kita.
Detik ini adalah
proses, dimana aku sebagai pengendali dari diriku sendiri. Meskipun masih dalam
tahap bermain dan menikmati sebuah kesakitan. Bernafas dengan membuang
kata-kata jelmaan dari sebuah rasa itu, dari jutaan menjadi ribuan, ratusan menjadi
puluhan sampai aku tak merasakan istimewanya dirimu.
Terima kasih kamu. Sebuah
mimpi yang memang sudah didepan mata tapi sangat mustahil untuk dicapai maupun
diraih. Ini adalah sebuah jalan dan sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap
menyimpan keindahan rasa. Membuang jauh ego dan nafsu, karena semua itu telah
dimenangkan oleh sebuah logika dan realita. Bahwa aku dan kamu dalam
kemustahilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar